Mengukir Hati

December 9th, 2008 by ajisetiawan
Oleh : Aji Setiawan

Kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengapa kita perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT? Karena, kita ingin melaksanakan sabda Rasulullah SAW, ”Hidup di sisi Allah itu baik untuk kalian, dan mati di sisi Allah juga baik untuk kalian.”

Untuk bisa hidup dengan mencintai dan dicintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW memang tak mudah. Tergantung bagaimana kita bisa becermin dengan apa yang telah Allah SWT contohkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan, untuk dapat melaksanakannya, kita harus memperbanyak amal ibadah serta membersihkan hati. Sebab, amal ibadah dunia yang didasari dengan niat yang baik akan menjadi amal akhirat. Amal ibadah yang kelihatannya seperti amal ibadah akhirat tapi tidak disertai dengan niat yang baik, akan menjadi amalan dunia saja.

Itu artinya, kita harus memperbaharui setiap amal ibadah kita dengan menyucikan niat, hanya demi berbakti kepada Allah SWT. Jangan sampai kita tergelincir sehingga menderita penyakit hati, seperti ujub (membangga-banggakan diri), riya (pamer), sumah (suka menceritakan amal), dan lainnya, yang bisa menghancurkan amal ibadah akhirat kita.

Menyucikan hati itu penting sekali, sebab hati manusia mudah berubah-ubah. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW mengajarkan doa, ”Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi an dinika. (Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku kepada agama-Mu). Artinya, kita harus selalu membersihkan hati dari kotoran penyakit-penyakit hati. Hati itu ibarat besi yang setiap kali diampelas, segera setelah itu karatan kembali.

Lalu, sejauh mana kita berikhtiar untuk membersihkan dan mencuci hati? Sebagian orang menempuh jalan tarekat, yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Pertama, beribadahlah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Antakbudallaha ka annaka tara, fa-inlam tarahu fa-innahu yara. (Beribadahlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah; tapi jika kamu tidak bisa melihat-Nya, beribadahlah seakan-akan kamu merasa dilihat Allah SWT).

Untuk kali pertama mencoba ”melihat Allah”, mungkin terasa berat. Tapi, kita harus berusaha beribadah sedemikian rupa sehingga kita bisa merasa dekat pada Allah SWT, berusaha beribadah sehingga merasa seolah-olah kita dilihat Allah SWT. Bagaimana caranya agar kita bisa beribadah dan merasa dekat serta dilihat Allah SWT? Ingatlah firman Allah SWT dalam beberapa ayat Alquran, bahwa kita harus senantiasa berdzikir

Duduk di atas sebuah batu

February 1st, 2007 by ajisetiawan

Banyak kawan menyapa aku sebagai pemuda yang kukuh seperti batu. Aku tentu bukan batu, yang keras. Kerasnya hati akan luluh oleh tetes air. Apalagi tetes air hujan yang mengguyur begitu deras.
Aku kukuh tidak sebagaimana batu. Karena batu itu telah aku injak dan aku duduki. Keras hanya sebagian saja yang diteguhkan, itu berbeda dengan tegas apalagi  kekerasan.
Teguh dalam bersikap, tegar menghadapi  rintangan dan perlu kerja keras untuk meraih cita-cita. Itulah  semangat  hidup.

Menyambut Tahun 2007

December 24th, 2006 by ajisetiawan

Pergantian tahun berlangsung dari hari ke hari yang berubah bulan. Dari bulan ke bulan berubah menjadi tahun ke tahun, windu ke windu. Sampailah pada perlintasan sejarah, dasawarsa. Sampai ke abad. Hidup kita, tidak sampai seabad lamanya. Kalau sampai seabad, sudah tidak mungkin, menangi (melihat), seributahun lagi. Itulah fase kehidupan, tumbuh, hidup, jaya dan ada kematian.

Sudahkah kita mempersiapkan perjalanan pendek ini dengan penuh manfaat. Saya tidak mengajarkan yang bukan-bukan. Cuma mari merenung sejenak, tafakur, mengitari perlintasan masa silam, setahun lewat atau bahkan sejak dilahirkan. Proyeksi masa depan mari jadikan lebih baik dari masa lalu……

Purbalingga, 1 Syawal 1427 H

October 19th, 2006 by ajisetiawan

TELAH FITRI-KAH KITA
———— ——— ———

Telah fitrikah kita, kalau puasa belum merohanikan
kehidupan kita
Telah fitrikah kita, kalau badan, harta dan kuasa
dunia masih menjadi muatan utama kalbu kita
Telah fitrikah kita, kalau keberpihakan kita belum
kepada orisinalitas diri dan keabadian
Telah fitrikah kita, kalau masih tumpah ruah cinta
kita kepada segala yang tak terbawa ketika maut tiba
Telah fitrikah kita, kalau kepentingan dunia belum
kita khatamkan, kalau untuk kehilangan yang selain
Allah kita masih eman
Telah fitrikah kita, kalau kasih sayang dan ridha
Allah masih belum kita temukan sebagai satu-satunya
hakekat kebutuhan

Ya Allah, jangan biarkan Ramadlan meninggalkan jiwa
kami
Ya Allah, jangan perkenankan langkah kami menjauh dari
kemuliaan berpuasa
Ya Allah, halangilah kami dari napsu melampiaskan,
serta peliharalah kami dari disiplin untuk
mengendalikan
Ya Allah, peliharalah Ramadlan dalam kesadaran kami
Ramadlan sepanjang jaman
Ramadlan sejauh kehidupan
Ramadlan sampai ufuk keabadian

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427 H
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum,
Syiyamana Wa Shiyakum

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Wassalam,
Purbalingga, 1 Syawal 1427 H

Aji Setiawan
http://ajisetiawan.blogspot.com

Majalah alKisah,

PT Anekayess!

Jl Salemba Tengah 58

Jakarta Pusat

Perjalanan Sunyi

September 23rd, 2006 by ajisetiawan

Entah sudah berapa lama, lelaki itu melakukan suatu pengembaraan yang disebutnya “Perjalanan Sunyi”. Ia melakukan perjalanan itu sendirian. Diam-diam berbagai tempat ia kunjungi. Berbagai nuansa ia hayati…berbagai nilai ia rasuki, berbagai kesunyian dan kesendirian ia selami, berbagai, berbagai….
Jika saja, lelaki itu disuruh bercerita tentang perjalanannya, sudah barang tentu, beribu-ribu lembar kertas akan habis untuk menceritakan ‘hasil perjalanan sunyinya’. Jika saja ia seorang intelektual tulen, sudah berapa teori besar akan ‘nerocos’ keluar dari kandungan otaknya yang nakal ‘bukan main’. Jika ia seorang pengarang, sudah berapa puluh novel siap untuk diterbitkan. Jika saja ia seorang penyair, tentu bisa dibayangkan berapa danau kegetiran dan pahitnya ‘kesendirian dalam hidup’ siap ia teteskan dalam mutiara kata-kata yang sepi dan penuh kesunyian.
Sayang, lelaki itu hanyalah orang kecil, ia hanya manusia biasa. Ia hanya bisa meneteskan air mata ketika perpisahan demi perpisahan ia hadapi dalam perjalanan sunyinya itu. Sayang lelaki itu hanya ‘bersandal jepit’ an tidak berpotensi untuk hidup mentereng ‘jreng’, penuh gemerlap hidup. Ia hanya rakyat biasa. Ia tidak pernah risau akan perebutan kekuasaan demi kekuasaan. Baginya itu tidak penting dan ia tidak ingin sedikit pun berkuasa.
Lelaki itu biasa menabung ‘kesabaran’ atas kecongkakan dan kesombongan ‘gemerlap metropolis’ serta ‘konsumerisme’. Lelaki itu begitu tabah untuk senantiasa ‘berpuasa’ atas segala ‘kemegahan’ demi ‘kemegahan’ yang ia saksikan. Ia tidak silau dengan apa yang ada.
Lelaki itu tentu saja bukan ‘turis’ yang sedang menyaksikan berbagai keindahan hasil budaya atau indahnya alam semesta ciptaan Tuhan. Lelaki itu bukan seorang ilmuan yang sedang meneliti berbagai fenomena sosial, yang di mana dari hasil penelitiannya itu akan menjadi suku cadang karya-karya monumental dan spektakuler di kemudian hari.
Kalau anda menjumpai lelaki asing itu, dengan wajah yang ceria dan mungkin saja ia kini memakai jaket kumal seperti gelandangan. Berarti, ia sedang hidup menggelandang, layaknya masyarakat kebanyakan–gelandangan ibu kota–.
Lelaki itu terus mengembara, menghilang dari peradaban budaya. Ia tengah meniti jalan (tharieq) yang tidak pernah tersentuh oleh penguasa, organisasi sosial politik, atau masyarakat. Pada saat-saat tertentu ia telah memilih ‘tidak ada’. Artinya, ia melenyapkan seluruh potensi penglihatan manusia, karena ia merasa ‘tidak ada’ (Wujuduhu ka’adamihi)–Sungguh adanya, adalah tiadanya, ada ndak apa-apa dan tidak ada juga tidak apa-apa–.
Ya itu hanya sekelumit dari sebuah perjalanan sunyi yang sebentar lagi berakhir….
http://ajisetiawan.blogspot.com/

Bulan Puasa Penuh Berkah

September 14th, 2006 by ajisetiawan

Rasulullah SAW di akhir bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kaum muslimin tentang berkah bulan Ramadhan. Di bulan ini terdapat keberkahan malam lailatul qadr dan keutamaan memberi makan orang-orang berbuka puasa Pada hari terakhir bulan Sya’ban, Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kaum muslimin. Dengan mengenakan jubah putih dan berselempangkan surban berwarna hijau, beliau berdiri di depan mimbar, bersabda,”Wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, malam lailatul qadr. Inilah bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat Tarawih di malam harinya sebagai sunah. Barang siapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah di bulan ini dengan suatu amalan sunnat. Maka pahalanya seolah-olah dia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barang siapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka dia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan tujuh puluh kali lipat amalan fardhu pada bulan yang lain. Inilah bulan kesabaran, dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati adalah surga. Bulan ini juga merupakan bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang yang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka Jahanam dan dia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang berpuasa, tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.” Selesai berhutbah, beliau masih berdiri di depan mimbar. Wajahnya yang putih bersih penuh kasih dan senantiasa memancar kesejukan itu pandangannya menyapu seluruh seisi masjid. Tiba-tiba salah seorang sahabat bertanya,”Ya Rasulullah! Tidak semua orang di antara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.” Setelah diam sejenak, Rasulullah SAW dengan suara yang jernih dan pelan namun tetap berwibawa bersabda,”Allah SWT akan mengkaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka puasa walaupun hanya dengan sebiji korma, atau seteguk air atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah menurunkan rahmat. Sepuluh hari pertengahannya Allah memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari terakhir Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka Jahanam. Barang siapa yang meringankan beban hamba sahaya nya(membebaskan budak) pada bulan ini, maka Allah SWT akan mengampuninya dan membebaskan dari api neraka. Perbanyaklah di bulan ini empat perkara. Dua perkara akan dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua lagi kamu pasti memerlukannya. Dua perkara yang kalian ridha kepada Rabb kalian ialah syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada-Nya. Sedangkan dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu, hendaknya kalian memohon surga kepada Allah dan kalian berlindung kepada-Nya dari api neraka. Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberi minum dari telaga Haudh (kolam) yang sekali minum saja dia tidak akan merasakan dahala lagi hingga dia memasuki surga.”(HR Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqy, Abusy-Syaikh dan Ibnu Hibban). Lepas mendengar jawaban dari beliau yang terang dan jelas, para sahabat pun kemudian pulang ke rumah masing-masing. Hingga tibalah saat kaum muslimin memasuki bulan Ramadhan, mereka menjalaninya penuh khusyuk dan khidmat. Pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW dan para sahabat terlihat banyak menghabiskan waktu dengan beri’ktikaf di masjid. Kaum muslimin mengisinya dengan membaca Al-Qur’an atau berdzikir untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Tepat ketika memasuki hari keduapuluh, beliau kemudian menyampaikan khutbah,“Aku bermimpi pada lailatul qadr, namun kemudian aku lupa.” Beliau mengulanginya lagi sabdanya,”Lalu aku lupa.” Sejenak beliau terdiam dan pandangannya yang sejuk menyapu seluruh masjid tempat beliau beri’ktikaf. Para sahabat menyimak penjelasan beliau penuh takdim dan mereka tertunduk tak berani menatap wajah baginda Rasulullah SAW agung dan mulia itu. Dengan nada suara yang perlahan beliau melanjutkan kembali khutbahnya, ”Maka carilah pada sepuluh hari terakhir pada malam ganjil ini, karena aku bermimpi sujud pada air dan tanah. Siapa yang beri’ktikaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka hendaklah pulang.” Maka para sahabat menuruti semua perintah Rasulullah SAW untuk pulang ke rumah masing-masing. Pagi itu di sekitar kediaman Rasulullah SAW tampak sepi, langit terlihat cerah, tak nampak sedikit pun awan menggantung di langit. Namun, tak berapa lama kemudian tiba-tiba datang awan tebal dan disusul dengan curahan air hujan yang sangat lebat. Air deras dari langit itu menimbulkan suara gemuruh, hingga atap masjid yang terbuat dari pelepah kurma bocor dan sebagian membasahi seluruh lantai-lantainya. Saat itu Rasulullah SAW tengah menunaikan shalat sunnah dan tengah bersujud di atas air dan tanah, hingga terlihat bekas tanah liat di kening beliau yang agung. AST

ajisetiawan.blogspot.com

Tanda-tanda Kiamat Kecil (Mutiara Rasul 5)

August 2nd, 2006 by ajisetiawan

Apakah tanda-tanda kiamat kecil? Tanda-tanda itu pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah dialog yang menarik dengan Salman Al-Faisy. Suatu saat, ketika menunaikan haji wada’, sambil memegangi kiswah Ka’bah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah tidak dilaksanakannya salat, diikutinya syahwat, berkhianatnya para pemimpin, dan fasiknya para menteri.” Sahabat Salman Al-Farisy langsung menyeruak ke arah beliau. ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” tanyanya. ”Benar, Salman. Saat itu kemungkaran menjadi kemakrufan dan kemakrufan menjadi kemungkaran,” jawab Rasul. “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” tanya Salman lagi. “Benar. Saat itu hati orang mukmin larut dalam badannya, seperti garam larut dalam air, karena apa yang dilihatnya ia tidak mampu mengubahnya,” jawab Rasul. Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” Rasul menjawab lagi, ”Benar. Saat itu pengkhianat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat; para pendusta dianggap jujur, dan orang jujur dianggap dusta.” Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu itu akan terjadi?” Tanpa jemu, Rasul menjawab, “Benar. Sesungguhnya orang yang paling utama ialah orang mukmin yang berjalan di tengah segolongan orang yang dalam ketakutan. Jika dia berbicara, mereka akan memakannya, dan mati karena kemarahan dalam dirinya. Wahai Salman, suatu kaum tidak akan disucikan jika yang kuat memakan yang lemah.” Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” “Benar. Saat itu orang kaya disanjung-sanjung, agama dijual dengan dunia, dunia dicari dengan amal akhirat. Laki-laki berhubungan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka adalah bagian dari umatku yang dilaknat Allah SWT. Saat itu, umatku disusul dengan umat yang lain, badan mereka badan manusia namun hatinya hati setan. Jika umatku bicara, mereka dibunuh. Jika diam, darah mereka dihalalkan. Mereka tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa. Alangkah buruknya perilaku mereka. Para muhrim digagahi, hukum dapat dibicarakan, wanita dijadikan pemimpin, para budak dimintai pendapat, anak kecil dipuja, tentara di mana-mana, orang laki-laki mengenakan perhiasan emas dan berzina, para penyanyi wanita bermunculan, Al-Quran dilagukan, orang hina lebih banyak angkat bicara.” Salman bertanya, ”Apa makna orang hina lebih banyak angkat bicara?” Rasul menjawab, ”Dia membicarakan masalah secara umum, padahal sebelumnya tidak pernah bicara.” Tanya Salman lagi, “Apakah hal itu akan terjadi?” Jawab Rasul, ”Benar. Saat itu masjid-masjid dihiasi aneka perhiasan seperti gereja dan biara. Mushaf Al-Quran dihiasi emas, mimbar dibuat lebar, banyak saf tapi hati manusia saling berjauhan, dan perkataan mereka beraneka macam. Siapa yang diberi, bersyukur; siapa yang tidak diberi, kufur.” “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” lagi-lagi Salman bertanya. Rasul menjawab, “Benar. Saat itu datang para tawanan dari timur dan barat dari umatku. Kecelakaan bagi orang-orang lemah di antara mereka, dan kecelakaan dari Allah. Jika bicara, mereka dibunuh; jika diam, juga dibunuh. Mati dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan.” “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. ”Benar. Saat itu istri bersekutu dengan suami dalam urusan suami, seseorang durhaka kepada bapaknya, dan justru berbuat baik kepada temannya. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala, ulama mereka lebih buruk daripada bangkai.” “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman lagi, tak sabar. “Benar. Saat itu ibadah mereka hanya membaca lafaz ibadah tanpa kandungannya, mereka disebut orang-orang najis dan kotor di kerajaan langit dan bumi.” Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” “Benar. Saat itu kitab suci dijadikan nyanyian, dilemparkan ke belakang punggung. Mereka tidak menegakkan hukum yang sudah ditetapkan Allah, mereka mematikan sunahku. Mereka menghidupkan bidah, tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Saat itu anak kecil dicemburui sebagaimana budak, anak kecil melamar sebagaimana melamar, wanita dan pasar-pasar saling berdekatan.” Salman masih penasaran, lalu katanya, ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apa makna pasar saling berdekatan?” Rasul menjawab, ”Jika setiap orang berkata, ’Aku tidak menjual dan aku tidak membeli’ - padahal tidak ada yang memberi rezeki selain Allah - saat itu yang berkuasa adalah orang-orang jahat yang tidak memberikan hak kepada manusia dan mengisi hati mereka dengan ketakutan. Engkau tidak melihat kecuali orang yang ketakutan. Saat itu haji dielu-elukan, orang-orang terkenal menunaikan haji demi hawa nafsu, kelas menengah berhaji untuk berniaga, dan orang miskin berhaji untuk ria dan mencari nama.” “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. “Benar, wahai Salman,” jawab Rasulullah SAW dengan mantap. Disarikan oleh AST dan Ainul Yaqin dari kitab Muhadharat al-Abrar karya Muhyidin Al-Araby yang dinukil oleh Ibnu Marduwaih, halaman 298 “Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila Tuhan terus-menerus melimpahkan nikmat, sementara engkau terus-menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” (Ali bin Abi Thalib)

Amal yang diterima Allah SWT (Mutiara Rasul 6)

August 2nd, 2006 by ajisetiawan

Setiap amal seseorang akan melewati tujuh langit sebelum diterima oleh Allah SWT.
Pada setiap langit, malaikat penjaga pintu langit akan memeriksa setiap amal hamba-Nya

Muadz bin Jabbal suatu ketika bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Muadz! Sekarang aku akan mengisahkan kepadamu, bila engkau menghafal dan menjaganya akan sangat berguna bagimu. Tapi jika engkau menganggap remeh, maka kelak di hadapan Allah SWT, engkau tidak mempunyai hujjah (alasan) apa pun juga.”
Muadz bin Jabbal mendengarkan dengan cermat setiap perkataan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, ”Wahai Muadz! Sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat yang bertugas sebagai penjaga pintu langit. Setiap langit mempunyai seorang malaikat penjaga. Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan hamba-Nya dan kemudian sang malaikat penjaga membawa catatan amalan tersebut ke langit.”
Rasulullah menceritakan tentang sampainya amal seorang hamba ke langit pertama. Sesampainya di langit pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan hamba. Akan tetapi malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah, ‘Tamparkan amalan ini ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga orang-orang yang suka mengumpat atau riba. Aku diperintahkan Allah agar menolak amalan orang yang suka mengumpat atau riba untuk melewati pintu berikutnya.’
Di pintu kedua, terdapat malaikat khusus yang memeriksa, apakah amalan si hamba untuk mengharapkan dunia, dan bila amalan tersebut untuk kepentingan dunia, maka akan ditolak untuk dilaporkan ke atas.
Di pintu ketiga, malaikat memeriksa amal apa pun yang dilakukan oleh manusia. Bila orang yang beramal memiliki sifat sombong, maka malaikat penjaga akan berkata, ‘Berhenti! Dan lemparkan amalan itu ke wajah pemiliknya! Aku malaikat penjaga kibr (sombong), Allah SWT memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak disampaikan kepada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri. Ia sombong di dalam majelis.’
Di hari yang lain, malaikat Hafazhah membawa amalan seorang hamba yang sangat banyak, tapi semuanya tertolak karena amalan tersebut dibarengi sifat ujub atau kesombongan pelakunya. Di hari yang lain lagi, saat amalan seorang hamba naik ke langit. Malaikat penjaga langit kelima akan menolaknya dengan berkata, ’Aku malaikat penjaga sifat hasad (iri). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri pada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Berarti ia membenci yang meridhainya, yaitu Allah SWT. Aku diperintahkan agar amalan semacam itu tidak melewati pintuku.’
Pada kesempatan yang lain, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan hamba. Setelah lolos dari langit pertama hingga langit kelima. Tetapi sesampainya di langit keenam malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku malaikat penjaga Rahmat. Amalan yang kelihatan bagus itu tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amalan ini tidak melewati pintuku untuk diteruskan ke langit berikutnya.’
Hari yang lain malaikat Hafazhah naik ke langit dengan membawa amalan seorang hamba. Akan tetapi sesampainya di langit ketujuh, malaikat penjaga pintu langit berkata, ‘Aku malaikat penjaga sum’ah (ingin dikenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran di dalam setiap perkumpulan. Menginginkan derajat yang tinggi di kala berkumpul dengan kawan. Ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amalan tersebut tidak melewati pintu ini.’
Di kemudian hari, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa berbagai amalan hamba dari langit pertama hingga langit ketujuh. Amalan tersebut telah lolos dari para malaikat penjaga. Amalan yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, tilawatil Quran, haji, shadaqah dll, tampak berkilau bagai cahaya yang terang. Malaikat Hafazhah selanjutnya menembus hijab hingga sampai di hadapan Allah SWT. Seluruh malaikat menyaksikan amalan itu. Amalan ibadah itu soleh dan diikhlaskan karena Allah.
Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Hafadzah! Malaikat penjaga amal hamba-Ku! Aku lah Allah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk-Ku. Tetapi ia beramal untuk selain-Ku. Bukan diniatkan untuk-Ku.’
Dan selanjutnya, Allah SWT melanjutkan firman-Nya, ‘Mereka telah menipu orang lain dan juga kalian. Aku tidak tertipu. Aku mengetahui yang ghaib. Aku melaknatnya!’
Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat yang hadir kemudian berkata, ‘Ya Allah, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.’
Kemudian semua yang ada di langit mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknatnya orang-orang yang melaknat!’
Mendengar semua kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW itu, dengan sambil menangis Muadz bertanya, ”Ya Rasulullah! Bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Muadz! Ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.”
Muadz bertanya lagi, ”Engkau adalah Rasulullah SAW dan aku adalah Muadz bin Jabbal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Rasulullah SAW menerangkan, ”Memang begitulah bila ada kekurangan dalam amal ibadahmu, maka jagalah lisanmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama para auliya mu. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu penuh dengan aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Jangan menonjolkan diri dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan ria dalam beramal. Jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majelis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jangan menghancurkan pribadi orang lain. Kelak engkau akan dirobek-robek dalam jahanam!”
Beliau kemudian membaca firman Allah, ”Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Kalian mau tahu seperti apa orang yang dicabut nyawanya, bagaikan orang yang menarik daging dari tulang.”
Mendengar semua keterangan ini, Muadz masih bertanya, ”Ya Rasulullah! Siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam itu?”
Rasulullah menjawab, ”Muadz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan bencilah terhadap yang engkau benci. Dengan demikian engkau akan selamat.”

AST, dari Ihya’ Ulumuddin

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab RA, Rasulullah bersabda, “Setiap amal seseorang tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tentang Aku

August 2nd, 2006 by ajisetiawan

Kalau kau tebak aku

Pasti tebakanmu salah-salah melulu

Minimal 100% tak benar,

Ndak benar,kalau aku kiri

Ndak benar aku terlalu kanan,bahkan fundemantalis

Ndak benar Islam itu radikal

Ndak benar juga kalau aku feminim

Terus??? Aku berada di tengah-tengah..Kata penyanyi dangdut,sapa itu? Eee…e…Vety Vera,yang sedang-sedang saja/ terlalu dingin? Jangan! Terlalu panas? Jangan! Yang sedang-sedang saja.

Kau kira aku orang miskin, salah juga, aku punya sawah 11 hektar,3 hektar jeruk siap panen,1000 pohon kelapa di atas 12000 meter persegi siap petik dan rumahku berdiri di atas 1200 meter persegi.Aku punya 200 kerbau yang waktu kecil,aku senang menaikinya di waktu sore, berjalan di atas pematang sawah..Apakah aku kaya? Ndak juga,aku sekarang terlarat-larat di sebuah gubuk derita berukuran 1,5 X3 m seperti penjara hidup. Makan pun sehari makan,sehari tidak…

Ada apa dengan ku?

Kenapa aku memilih semua ini? Kau kira aku gila? Aku waras,sobat..Aku memilihnya dengan penuh kesadaran. Bahkan saking sadarnya,aku tahu hari ini sedang di mana, esok pagi harus menginap di hotel apa, harganya berapa dan 2 hari ke depan harus ketemu Kyai apa dan pesantren apa..Bila perlu makam-makam para wali Allah satu kabupaten, tak sowani, tak suwun pangestu…. Jangankan cuma sehari dua hari, sebulan ke depan harus jelas….Anda sedekat apa pun denganku,kalau seminggu sebelumnya tak mengabari ku ya…hilang saja …betul kan???

Anda kira,aku di Jakarta? MaLang,Bali,atau Kediri? Tidak…itu soal keberadaan tempat saja, anda tengah membaca surat ini kan? Berarti,aku tengah berbicara pada Anda dan Anda seolah-olah melihatku, bukan? Itu artinya, aku amat dekat dengan Anda…sedekat apa? Sedekat Engkau dan Aku….

   

      

Menuju terang dari kegelapan

July 15th, 2006 by ajisetiawan

Minnadhulumat ..Illa Nur

Kalau hari-hari ini aku terjerembab dalam kegelapan,
Aku serasa memasuki malam,
Tafsir mimpi tidak mengubah keadaan
Doa-doa merintis  usaha harus  berjalan seiring

Aku berlaku tidak sebagai kuasa
Tapi kuli kuasa melawan takdir
menentukan arah dan tujuan berlabuh

Kegelapan ini akan berakhir dalam sekejap
Merubahnya dan menumbuhkannya dengan lentera
Sebagai penerang kehidupan

Cahaya..demi cahaya
Terangilah hidupku yang tengah di rundung gelap
Pengap oleh lalu lalang kehidupan

Aku harus temukan kejernihan itu
Sumber cahaya itu
Siapa tahu itu adalah kamu